KAJIAN TAFSIR TEMATIS

NABI ISA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN IV

(Kenaikan Nabi Isa)

oleh: Faizin (dosen Fak. Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang)

Firman Allah:

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِيناً. بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزاً حَكِيماً

Artinya: Dan karena ucapan mereka:”Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, ‘Îsâ putera Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Îsâ bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) ‘Îsâ, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah ‘Îsâ. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Nisâ’/4:157-158)

Pengakuan orang Yahudi atas kerasulan Nabi ‘Îsâ sangat jelas dan tegas dalam ayat di atas. Numun apakah ungkapan tersebut benar-benar diucapkan oleh kalangan Yahudi sepenuh hati, karena dalam sejarahnya, Isa banyak mendapat kecaman dan dimusuhi oleh kaum Yahudi sebagai bukti atas ketidak percayaan mereka terhadap kerasulannya, seperti menyebutnya tukang sihir, anak haram dan ibunya pelacur, dan sebagainya. Dengan hal tersebut, bagaiman mungkin mereka menagatakan Isa itu adalah Rasulullah. Perkataan kuam Yahudi dalam ayat di atas dapat dipahami sebagai bentuk ejekan atau cemoohan sebagai wujud ketidakpercayaan mereka, bukan merupakan pengakuan.

Dengan tidak diakuinya kerasulan Isa dan wajah permusuhan yang telah ditanamkan kaum Yahudi, maka mereka membuat Fitnah, mengadukan kepada raja Romawi hal yang tidak pernah dikatakan dan dilakukan oleh ‘Îsâ. Di antaranya bahwa Isa mengakui bahwa ia adalah Allah, melakukan praktek sihir, dan sebagainya. Lalu kaum Yahudi meminta kepada Raja Romawi untuk menangkap dan menyalib Isa di tiang gantungan.[1]

Dalam proses penangkapan Isa, Raja Romawi mengutus Yahuza (Yudaz anak Iskariot) beserta tentaranya. Dalam menunaikan tugasnya itu, Yahuza justeru diubah oleh Allah seperti layaknya Isa. Oleh sebab itu bukan Isa yang mereka tangkap dan mereka salib melainkan Yahuza. Keterangan ini  sangat sesuai dengan isi Injil Barnaba[2] yang mengatakan:

“Tantkala tentara Romawai dengan Yahuza sebagai pemimpin yang mendekati tempat ‘Îsâ bersembunyi, ‘Îsâ pun mendengar tentang kedatangan mereka. ‘Îsâ pun masuk ke sebuah rumah di mana terdapat 11 orang teman-temannya (murid-muridnya) sedang tidur. Tatkala Tuhan melihat bahaya yang tengah mengancam hambanya lalu Tuhan pun mengirimkan malaikat Jibrail, Mikail, Rifail (Israfil) dan Adrail (Izrail), sebagai utusan Allah untuk mengambil ‘Îsâ dari alam ini. Malaikat yang suci itu datanglah dan membawa ‘Îsâ dari jendela sebelah selatan, diangkatnya dan ditaruhnya di langit ketiga. Di tengah malaikat yang banyak yang selalu bertasbih kepada Allah, Yahuza pun masuk ke dalam kamar di mana Isa dilarikan, murid-murid Isa tidur tantkala Yahuza datang, Yahuza berubah wajahnya dan suaranya sama dengan suara Isa. Sehingga kami semua berkeyakinan bahwa Yahuza adalah al-Masih yang sebenarnya. Kemudian setelah ia menggugah kami, Yahuza pun melihat ke sana ke mari, di mana guru yang dicarinya itu. Kami heran dan kami katakan: “engkau yang Tuan Guru kami, apakah engkau sudah lupa sekarang?[3]

Agaknya keterangan Barnaba di atas sesuai dengan al-Qur’ân yang sama-sama menyatakan bahwa Isa tidak ditangkap, dibunuh, dan disalib. al-Qur’ân juga memaparkan bahwa tentara yang ikut serta dalam penangkapan Isa tidak yakin tentang kepastian itu. Sehinganya, terjadi perselishan di antara meraka; ada yang mengatakan yang di bunuh itu adalah ‘Îsâ, dan ada juga yang berpendapat bahwa yang dibunuh itu bukanlah ‘Îsâ. Menurt al-Râziy keteragan ini timbul karena mereka tidak tahu persis siapa Isa sebenarnya, mereka hanya mengetahui namanya saja.[4] Selain itu ditegaskan juga bahwa Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka. Mengikuti prasangkaan (al-zhann), dalam pandangan al-Qur’ân merupakan tindakan yang tercala dan tindakan tersebut tidak akan membawa kebenaran: Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran (QS. Yusuf/0:36). Demikian Allah menggambarkan prasangkaan orang kafir tersebut yang segaligus menunjukkan ketidakbenaran mereka. Sebaliknya, di balik perselisahan dan keraguan itu terdapat kepastian yang dipaparkan oleh ayat di atas di mana tidak ada sedikit keraguan bahwa ‘Îsâ tidak dibunuh dan salib, Isa diangkat oleh Allah di sisinya.

Mengenai pengangkatan Isa yang ditampilkan al-Qur’ân dengan redaksi rafahu Allah ilaih (Allah mengangkatnya kepada-Nya) terjadi silah pendapat ulama. Menurut al-Sya’rawiy – sebagaiman dikutib oleh M. Quraish Shihab – Allah mengangkat Isa secara sempurna, ruh dan jasadnya, dan meletakkan di suatu tempat yang tidak mampu dijangkau oleh mushnya, yakni di sisi Allah. Semenatara kata ilayya (kepada-Ku) dipahami dengat “langit”.[5] Artinya, menurut pendapat ini ruh dan jasad Isa diangkat oleh Allah ke langit sehingga tidak dapat dijangkau oleh orang-orang kafir. Pendapat lain mengatakan bahwa ruh dan jasad ‘Îsâ tidak diangkat oleh Allah ke langit, namun ‘Îsâ wafat di suatu tempat di mana musuh-musuhnya tidak mengetahui posisinya. Kemudian setelah wafat Isa secara normal, ruhnya di angkat ke derajat yang sangat tinggi di sisi Allah.[6] Pendapat ini dikuatkan dangan ayat-ayat yang menjelaskan bahwa Isa di wafatkan oleh Allah SWT, yakni:

)إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ) (آل عمران:55)

Artinya: (Ingatlah), ketika Allah berfirman:”Hai ”Îsâ, sesungguhnya Aku akan mewafatkan kamu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya”. (QS. 3:55)

Terdapat kata mutawaffika dalam ayat di atas yang asal maknanya “sempurna”. al-Qur’ân banyak menggunakan kata ini dalam makna wafat, karena orang yang wafat adalah orang yang telah sempurna umurnya di dunia. Beranjak dari makna sempurna, maka dalam ayat di atas tidak mutlak dimaknai dengan wafat. Ia dapat dimaknai dengan pengambilan Allah secara sempurna, yakni melindunginya sehingga tidak dapat dicelakai oleh musuh. Artinya Allah mengambil ‘Îsâ dengan sempurna dan mengangkatnya kepada-Nya. Dengan demikian, musa tidak diwafatkan oleh Allah. Ayat lain yang juga menjelaskan kematian Isa ialah:

وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

Artinya: Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (QS. Maryam/19: 33)

Menurut hemat penulis ayat ini berbicara mengenai doa yang dipanjatkan Isa ketika ia masih bayi. Artinya Isa memohon kepada Allah agar ia diselamatkan pada tiga waktu: ketika lahir, wafat, dan dibangkitikan. Oleh ulama yang memandang bahwa Isa itu wafat, ayat di atas jelas adanya, apalagi adanya kata hayyan yang menunjukkan adanya kematian sebelumnya, namun keselamatan yang diminta oleh Isa adah keselamatan dari segala bentuk marabahaya yang dapat mencelakainya – ini dipahami dari situasi ketika ia berdoa/waktu bayi. Dari penafsiran terdahulu, dapat diungkapkan simpulan bahwa doa Nabi Isa dikabulkan oleh Allah, ia selamat dari kejaran musuh-musuhnya dan diangkat oleh Allah SWT, ini menjadi bukti bahwa Nabi Isa tidak diwafatkan. Sedangakan kehidupannya ketika dibangkitkan tidak selalu harus didahulai oleh kematian sebelum kiamat, sebab diberitakan ‘Îsâ akan  turun di akhir zaman. Kematian Isa terjadi ketika hari kiamat di mana Allah menyelamatkannya dari Dajjal, dan pada yaum al-ba’ats (hari kebangkitan) Isa dibangkitakan kembali bersama manusia lainnya dalam kodisi hidup. Wa Allah a’lam bi al-shawâb


[1]Abujamin Roham, Pembicaraan Sekitar Bible dan Quran dalam Segi Riwayat Penulisannya, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990), h. 330

[2] Barnaba merupakan salah seoarang murid Isa yang setia yang meruapakan saksi sejarah atas penangkapam Isa sehingga ia tahu benar apa yang terjadi. Namun dalam pandangan kristen, injil barnaba tidak diyakini, padahala dalam dogmanya, murid-murid Isa mendapat wahyu dan harus dipercai, hal ini dangat bertentangan sekali ketika berita yang disampaikan Barnaba di tolak, bahkan kisah-kisah di atas yang ada dalam Injil barnabaz berbeda jauh dengan ke empat Injil Lihat: Ibid., h. 331

Tentang faizin

Tidak kita sadari dunia ini semakin berubah dengan berbagai assesoris dan pernak-perniknya. Menikmatinya adalah anugerah yang tak terukur. Sedikit saja mengintainya akan nampak berbagai tirai yang menghiasinya. Akankah aku punya opsesi untuk menarangkainya menjadi bagian dari hidupku.

Posted on Juni 12, 2010, in Kajian Ushuluddin. Bookmark the permalink. Tinggalkan sebuah Komentar.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.